Minggu, 13 Desember 2009

Waspadai Penyakit TBC - 1 Menit, 3 Nyawa Melayang

Insidensi Tuberculosis (TBC). Pasti Anda sudah tak asing lagi mendengar nama penyakit satu ini. Ya, penyakit ini hingga sekarang masih menjadi salah satu penyakit menular yang terbesar di negara berkembang, bahkan Indonesia menduduki peringkat ketiga yang penduduknya menderita penyakit tersebut.

Tak tanggung-tanggung, sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan karena TBC. Data dari LSM Kesehatan di Sumut, dalam hitungan satu menit ada tiga korban jiwa meninggal di Indonesia. Artinya, dalam durasi satu jam ada sekitar 180 jiwa orang yang meninggal dunia akibat “serangan” penyakit ini. Itu baru satu jam, bisa dibayangkan berapa banyak pengidap penyakit ini yang meninggal dunia dalam setahun.

TBC timbul akibat adanya bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ini adalah salah satu bakteri yang hidup dalam tubuh manusia. Bakteri ini menjadi jahat jika ia berada lingkungan yang tidak sehat dan tubuh yang kurang gizi ataupun karena asap. Tak hanya paru-paru, TBC juga menyerang kulit, kelenjar limfa, tulang, dan selaput otak.

Menurut dr Arlina, dokter yang konsen terhadap penyakit TBC mengatakan, TBC lebih banyak menyerang orang termarginal atau kaum papa. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan tempat asal tempat tinggal mereka yang indentik dengan lingkungan tidak sehat atau jorok. Sehingga bakteri Mycobacterium tuberculosi yang ada di dalam tubuh semangkin mengganas sehingga menjadi jika tidak diatasi menjadi TBC.

”Apalagi bagi yang tidak memiliki daya tahan tubuh tinggi, memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk terserang TBC. Karena itulah, mulai dari dini hendaknya kita mulai membiasakan hidup bersih dan makan-makanan yang sehat, sehingga kondisi daya tahan tubuh tetap terjaga,” ungkapnya menjelaskan.


Sebagai Aib

Pada zaman penjajahan dulu, kata dr Arlina, penyakit ini dianggap sebagai penyakit aib. Di mana si penderita dicap memiliki penyakit kutukan, sehingga harus diasingkan dari keluarga bahkan masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dengan penemuan obat-obatan terhadap penyakit menular salah satunya TBC, penyakit ini sudah hal biasa, penyakit yang dapat disembuhkan.

Hanya saja syaratnya, lanjut dr Arlina, penderita harus rajin minum obat yang diberikan dengan jangka waktu 6 bulan. Obat ini diberikan secara cuma-cuma atau gratis di masyarakat yang tidak mampu. Apabila penderita bandel, tak mau meminum obat dengan teratur, penyakit ini dapat menjadi ganas.

dr Arlina menambahkan, bahwa sebenarnya di setiap tubuh manusia sangat berpotensi terkena penyakit ini, hal ini disebabkan karena adanya bakteri mycobacterium tuberculosis yang ada dalam tubuh. Secara alamiah, bakteri ini tidak memiliki sikap jahat terhadap tubuh, sepanjang kita selalu untuk hidup sehat.”Dari hasil penelitian dibuktikan, yang paling tinggi mengakibatkan TBC adalah dari lingkungan yang tidak sehat, ditambah kurangnya asupan gizi yang baik,” ujar dr Arlina mengingatkan.

Selain selalu membiasakan diri dengan hidup sehat, cara pencegahan penyakit ini adalah dengan selalu dengan menutup hidung dengan masker, apabila kita sedang berbicara dengan pasien yang tekena. ”Penyakit ini cepat bereaksi dalam tubuh, baik itu melalui air liur ataupun percikan dahak. Karena itu, disarankan untuk memakai masker saat sedang berbicara dengan penderitanya,” saran dr Arlina.


Ciri-ciri Penderita TBC

Kuman TBC ini memiliki bentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan (basil tahan asam). Namun, kuman ini tidak akan tahan dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembek. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun. Kuman dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif kepada orang yang berada di sekitarnya, terutama yang kontak erat.

dr Arlina menjelsakan, seorang penderita TBC dapat menularkan penyakit pada 15 orang di sekitarnya. Tapi, orang yang terinfeksi M. tuberculosis tidak selalu menderita penyakit TBC. Dalam hal ini, imunitas tubuh sangat berperan untuk membatasi infeksi sehingga tidak bermanifestasi menjadi penyakit TBC.

Biasanya, penderita TBC akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk berdahak kronis selama 3 minggu yang kemudian ditandai gejala tambahan seperti demam, berkeringat tanpa sebab di malam hari, sesak napas, nyeri dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan produktivitas penderita bahkan kematian.

”Gejala-gejala tersebut juga bisa dijumpai pada penyakit paru selain TBC. Oleh sebab itu orang yang datang dengan gejala di atas dianggap sebagai seorang ‘suspek tuberkulosis’ atau tersangka penderita TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Selain itu, semua kontak penderita TB Paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya,” ujar dr Arlina.


Rentan dengan HIV/AIDS

Bagi penderita HIV/AIDS, memiliki peluang yang paling besar untuk terkena TBC. Sebab HIV adalah penyakit yang menyerang daya tahan tubuh. Ketika daya tahan tubuh lemah, maka kuman TBC yang sudah ada dalam tubuh dan tertidur selama ini, menjadi bangkit dan berkembang.

Selain itu, merokok juga memiliki pengaruh yang besar. Perokok lebih mudah terserang kuman tiga hingga empat kali dibandingkan yang bukan perokok. Di tubuh perokok, kuman TBC juga lebih mudah bangkit dan berkembang dua hingga tiga kali, dibandingkan dengan bukan perokok. Pada perokok, angka penyembuhannya juga berkurang. Karena itu, agar bisa sembuh maka perokok harus menghentikan kebiasaan merokoknya.

”Gangguan kesehatan yang dapat timbul karena menurunnya daya tahan tubuh sebenarnya dapat diminimalisasi dengan penerapan prinsip-prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kuncinya itu adalah selalu menerapkan hidup sehat,” pungkas dr Arlina menutup pembicaraan.

Sumber :
Hotma Saragih
http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25967:waspadai-penyakit-tbc-1-menit-3-nyawa-melayang&catid=58:hidup-sehat&Itemid=66
24 November 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar