Minggu, 13 Desember 2009

Tuberkulosis, Bukan Hanya Di Paru, Tetapi Di Payudara, Rahim dan Testispun Bisa


Penyakit tuberkulosis (TBC), yang kumannya pertama kali ditemukan oleh Robert Koch telah saya ketahui sejak tahun 50-an, ketika masa anak-anak dulu. Tetangga kami ada yang menderita TBC paru. Jadi sering mendengar tentang batuk darah, dst yang sangat menakutkan kala itu. Penderita akan meninggal secara pelan tapi pasti, karena keterbatasan obat yang ada.

Diakhir tahun 70-an, sebelum ditemukannya penyakit AIDS, kasus TBC paru pernah mereda sampai jumlah yang sangat minim di Indonesia.

Tetapi saat ini setelah merebaknya HIV-AIDS, penyakit TBC tidak berkurang, namun bertambah. Bertambah dalam jumlah pasien dan bertambah pula organ yang dapat terkena, tidak terbatas hanya pada paru-paru. Malahan dinegara maju seperti Eropa, Amerika dan Australiapun  kasus TBC dijumpai dengan insidensi yang meningkat, sejalan dengan peningkatan jumlah kasus HIV-AIDS. Kenapa begitu?

Tuberkulosis dimasukkan kedalam golongan infeksi opportunistic, yaitu infeksi yang akan muncul dan menjadi berat, jika tubuh seseorang dalam keadaan lemah atau pada saat daya tahan tubuh seseorang menurun atau menjadi lemah. Contoh : pada penderita HIV-AIDS, pada penerima cangkok organ karena resipient ini harus mendapat terapi steroid/immunosupressant yang bertujuan untuk menghindari/menekan reaksi penolakan terhadap organ yang baru dicangkokkan kedalam tubuh penerima tersebut. Kondisi tubuh yang lemah juga pada mereka yang menjalani khemoterapi , obat keras untuk pengobatan penyakit kanker yang sedang dideritanya.

Waktu kecil yang saya tahu hanyalah  TBC paru dan TBC yang mengelilingi pangkal leher bawah, sehingga membentuk mata kalung (beads), melingkari leher dan seringkali pecah mengeluarkan nanah yang sekarang saya tahu itu disebut scrofuloderma.Â

TBC adalah salah satu penyakit yang dapat menyebar luas, ke seluruh tubuh : paru, ginjal, hati, limpa, tulang belakang, bahkan ke otak, kulit, kelenjar getah bening, payudara, rahim, ovarium, testis, kandung kemih, urethra, dll. Jadi dimana-mana bisa terjadi infeksi TBC. Belakangan saya sering mendapat kasus TBC di payudara (mastitis TBC) dan di rahim (endometritis TBC).

Dokter klinisi tadinya berpikir bahwa kasus tersebut adalah tumor payudara atau tumor dan atau hiperplasia endometrium (penebalan lapisan dalam rongga rahim). Setelah dilihat dibawah mikroskop, ternyata  kedua kasus itu hanyalah peradangan oleh kuman tuberkulosis. Jadi terlebih lagi bagi kita dinegara sedang berkembang (Asia & Afrika), sebenarnya kita masih asyik berkutat menghadapi penyakit infeksi yang menjadi masalah primer dibidang kesehatan. Â

Bagi saya kejadian seperti ini surprise, karena jarang sekali ditemukan kasus TBC ditempat janggal dan tidak lumrah seperti payudara dan rahim. Sedangkan bagi pasien temuan adanya peradangan khronik-spesifik(TBC) adalah menguntungkan. Artinya dibandingkan dengan tumor/kanker, maka infeksi TBC jauh lebih mudah diobati dan disembuhkan dibandingkan penyakit kanker.

Kenapa bisa terjadi peradangan TBC ditempat yang tidak biasa tersebut? Jawabannya adalah lagi-lagi karena life style. Masyarakat  modern sekarang ini suka bereksperimen dalam segala hal, termasuk dalam bercinta, dll. Jadi terimalah risikonya…

Sumber :
Dr. Sukma Merati
http://www.sukmamerati.com/tuberkulosis-bukan-hanya-di-paru-di-rahim-dan-testispun-bisa
28 Juni 2009

Sumber Gambar:
http://sitemaker.umich.edu/medchem13/files/rccm_tuberculosis_body.gif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar